Mempertanyakan Sikap Pemerintah atas Asbes Sebagai Limbah B3

“Asbes merupakan bahan berbahaya dan Beracun (B3) yang masih diijinkan untuk digunakan” ujar Ibu Nur Yun Insiani dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3) – Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam Audiensi bersama INA-BAN (Indonesia Ban Asbestos Network). Jakarta (23/11/2021) Seiring dengan meningkatnya laju pembangunan, peningkatan Limbah B3 terus meningkat baik dari

COP26-asbestos-climate-change

Teknologi Asbes, Tidak Berkelanjutan & Tidak Dapat Diterima

Rilis Media15 Oktober 2021 Tindakan yang diambil oleh organisasi internasional selama seminggu terakhir telah mengisyaratkan peningkatan kesadaran bahwa bisnis seperti biasa tidak lagi menjadi pilihan yang berkelanjutan mengingat keadaan darurat iklim. Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Human Rights Council) – badan hak asasi manusia utama PBB – dan ILO (Organisasi Buruh Internasional)

Bahaya Asbes Di Antara Bencana Alam

Pada awal tahun 2021 ini, berbagai bencana alam terjadi di Indonesia dan tentunya hal ini menambah dampak buruk selain pandemi Covid-19. Sepanjang 1-16 Januari 2021, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menyatakan sebanyak 136 bencana alam terjadi di Indonesia. Dari berbagai bencana alam tersebut telah menelan 80 korban jiwa dan 858 orang luka-luka, sebanyak 405.584 orang

PASIEN DENGAN PENYAKIT AKIBAT ASBES DI INDONESIA BERPOTENSI DITELANTARKAN OLEH NEGARA

  Bandung, April 2020 Pusat pengobatan di seluruh Amerika Serikat telah melambat atau bahkan menunda pendaftaran pasien baru untuk mesothelioma karena keseluruhan menerima pandemi COVID 19. Penundaan pendaftaran ini beresiko tinggi untuk pasien baru yang telah didiagnosa Pleural Mesothelioma, yang usianya hanya diprediksi sampai 6-12 bulan ke depan. Uji klinis yang dimaksud adalah studi ilmiah

Setiap Tahun 6 Ribu Warga Indonesia Terancam Kanker Akibat Bahan Bangunan Asbes

Oleh Anne Barker dan Phil Hemingway Posted 7 November 2019 at 9:37 am Abc.news.net.au   Australia sudah lama melarang penggunaan bahan bangunan asbes yang telah terbukti mematikan. Tapi di Indonesia, hal itu masih terus berlangsung dalam skala besar seakan tidak menyadari bahaya yang bisa ditimbulkannya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya telah memperingatkan epidemi penyakit-penyakit terkait asbes di

Asbestos, Racun Berhambur di Negeri Bencana

Seminar Nasional “Asbestos : Racun Berhambur di Negeri Bencana” Hotel Oria Jakarta –  9 Mei 2019   “Asbestos itu bahaya dan bukan mitos,” tegas Darisman selaku Board Indonesia Ban Asbestos Network (INA-BAN). Di perkirakan setidaknya ada 222,000 korban penyakit akibat asbes yang meninggal setiap tahunnya1. Dalam sambutannya di acara Seminar Nasional Asbestos : Racun Berhambur

Sexy Killer, Industri Batubara Penyumbang Luka dan Duka

Sexy Killers, merupakan bagian terakhir Ekspedisi Indonesia Biru, sebuah perjalanan dua jurnalis Dhandy Dwi Laksono dan Ucok Suparta,  merekam berbagai masalah sosial, ekonomi dan lingkungan di Indonesia. Film ini rilis pada 5 April 2019 sampai dengan 13 April 2019, sudah 476 lokasi memutar film ini di berbagai daerah di Indonesia. Film ini bercerita tentang bagaimana

BSN Akan Kaji Ulang Asbes Ber-SNI

Setelah melakukan audiensi dengan beberapa kementerian terkait regulasi pemakaian asbes, Indonesia Ban Asbestos Network (Ina-Ban) juga mengunjungi salah satu lembaga yang menangani labelisasi Standar Nasional Indonesia (SNI) sebuah produk, yaitu Badan Standarisasi Nasional (BSN) untuk mempertanyakan bagaimana peran BSN terhadap sebuah produk yang digunakan oleh masyarakat umum yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) seperti

KLHK akan Kurangi Penggunaan Asbes

Jakarta – “Selama itu berbahaya bagi masayarakat, dan kita pun sudah tahu bahayanya maka posisi KLHK sudah tegas, kita sudah mau mengurangi (penggunaan asbes)”, ungkap Yunik Kuncaraning sebagai Kasubdit Penerapan Konvensi B3 ketika ditemui tim Indonesia Ban Asbestos (Ina-Ban) di gedung Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta, Jumat (15/2/2019). Yunik menjelaskan KLHK sangat