Laporan: Perkiraan Jumlah Kematian Akibat Penyakit Asbes di Indonesia Tahun 2016

International Agencies for Research on Cancer (IARC) sejak 1987 mengatakan bahwa semua jenis asbestos, termasuk Chrysotile, berpotensi menyebabkan kanker bagi manusia. Bahan krosidolit ini yang kita lihat dalam bentuk atap dan dinding asbes, bantalan kanvas rem kendaraan, pelapis gasket mesin kendaraan dan banyak produk lainnya. Produk-produk tersebut telah menjadi bagian aktivitas masyarakat, namun belum disadari bahayanya.

Sebuah laporan dipublikasi tahun 2017 oleh vizhub.healthdata.org mengenai perkiraan kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan asbes di seluruh dunia di tahun 2016. Publikasi tersebut dilansir dari sebuah laporan artikel ilmiah yang berjudul “Estimation of the Global Burden of Mesothelioma Deaths from Incomplete National Mortality Data”.

Berdasarkan hasil laporan tersebut, China adalah negara dengan urutan pertama yang memiliki perkiraan jumlah kematian tertinggi yaitu sebanyak 20.940 jiwa pada tahun 2016. Menyusul India dengan jumlah 7.136 kematian. USGS melaporkan dalam “Worldwide Asbestos Supply and Consumption” bahwa konsumsi asbes di China menembus lebih dari 500.000 ton m3 sejak tahun 1990 dan puncaknya diantara tahun 2005-2010 yang menembus hampir 700.000 ton m3. Berdasarkan data tersebut, tingkat konsumsi asbes yang tinggi menjadi faktor utama dalam jumlah angka kematian akibat penyakit asbes.

Sedangkan Indonesia memiliki peringkat ke 12 dari 164 negara yang masih mengkonsumsi asbes. Sejak tahun 1990 sampai tahun 2016, data perkiraan kematian terus meningkat. Sebanyak 360 jumlah kematian pada tahun 1990 hingga 984 kematian di tahun 2016. Laporan tersebut juga memperkirakan bahwa seharusnya sudah ada penderita mesothelioma di Indonesia yaitu sebanyak 181 orang pada tahun 1990 dan meningkat menjadi 440 pada tahun 2016. Hal ini juga lagi-lagi disebabkan tingkat konsumsi asbes yang tinggi di Indonesia Merujuk data dari BPS dari total rumah tangga di Indonesia yang tercatat 65.588.400 (2015), sedikitnya 6 juta rumah tangga adalah masih pengguna asbes. Mirisnya, rumah tangga yang justru banyak menggunakan asbes adalah rumah tangga diperkotaan dan dalam kategori keluarga miskin.

Walaupun publikasi tersebut berupa perkiraan, korban asbes sudah bermunculan di Indonesia. Kasus penyakit akibat asbes sudah ditemukan sebanyak 11 orang penderita penyakit akibat asbes dan baru 1 orang yang diakui oleh negara atau diberikan kompensasi oleh BPJS Ketenagakerjaan. 11 orang tersebut adalah para pekerja di pabrik asbes. Kemunculan korban ini diinisiasi awalnya oleh pemeriksaan medis yang dilakukan oleh Indonesia Ban Asbestos Network (INA-BAN), sebuah organisasi kolektif yang mengkampanyekan pelarangan asbes di Indonesia. Selain melakukan pemeriksaan medis, INA-BAN juga mengadvokasi korban untuk mendapatkan kompensasi.

“INA-BAN memulai advokasi korban yang telah diperiksa secara medis mulai dari Desember 2016. Hanya saja yang diakui oleh negara baru 1 orang pekerja atas nama Sriyono.” ujar Firman Budiawan di kantor Local Initiative for OSH Network. “Kami dari INA-BAN akan terus mengkampanyekan pelarangan asbes di Indonesia. Ancaman sudah ada di depan mata. Korban sudah mulai bermunculan. Seluruh sumber di internet tidak ada yang menyebutkan bahwa asbes adalah bahan yang aman. Kami menyerukan kepada pemerintah untuk segera mengeluarkan peraturan dalam menghentikan asbes di Indonesia” tambahnya.

File publikasi dapat download disini. GBD Estimates of ARDs deaths for Asian countries

Spread the word. Share this post!

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *