Dokter RS Persahabatan: Sudah ada 21 Penderita Mesothelioma

Dokter RS Persahabatan: Sudah ada 21 Penderita Mesothelioma

Jakarta – Penelitian kasus kanker paru-paru yang dilakukan dokter RS Persahabatan mengungkap 21 penderita mesothelioma. Hal ini terungkap dalam kuliah umum yang menghadirkan Dennis Nowak, profesor kedokteran okupasi dan ahli paru-paru Jerman, Kamis 19 April 2018.

Mesothelioma adalah kanker yang menyerang mesothelium, yaitu lapisan jaringan tipis yang menyelimuti hampir sebagian besar organ bagian dalam. Asbestos atau dikenal dengan nama asbes disinyalir menjadi penyebab mesothelioma. Beberapa organ tubuh yang memiliki mesothelium, antara lain paru-paru (pleura), perut (abdomen), jantung (pericardial), dan testikel (tunica vaginalis). Kanker ini tergolong agresif dan banyak penderitanya yang tidak berhasil terobati.

Agus Dwi Susanto, Dokter Spesialis Paru RS Persahabatan, mengatakan penelitian ini mengambil data kasus kanker paru-paru yang ditangani RS Persahabatan sepanjang 1994-2014.

“Pada tahun 2016 untuk kasus kanker paru sebanyak 29,73% dari total 933 pasien memiliki riwayat tidak merokok. Kami menemukan beberapa diantaranya yang pernah terpapar oleh asbes. Selain itu, penderita mesothelioma juga kami temukan yaitu sebanyak 21 orang dari tahun 1994-2014,” paparnya.

Tim Dokter RS Persahabatan sendiri sudah beberapa kali melakukan penelitian jenis kanker paru-paru yang pernah ditanganinya.

Agus juga mengungkapkan upayanya untuk menemukan secara spesifik kanker paru-pru yang ditangani tim dokter RS Persahabatan.

“Kami pernah melakukan pemriksaan paru pada beberapa pasien dan diantaranya kami diagnosa sebagai mixed pneumoconiosis included asbestosis. Pasien tersebut memiliki latar belakang pekerja tambang,” paparnya dihadapan Nowak.

Dari penelitian bersama yang pernah dilakukan Agus, dia mengatakan paling tidak 2% pekerja yang berhubungan dengan asbestos menjadi suspected asbestosis.

“Kami juga melakukan sampling dari 108 pekerja (Kondisi paru-paru dari pekerja), terdapat 28 orang yang terpapar asbestos dan ini yang paling tinggi dari tipe-tipe paparan di tempat kerja,” ujarnya.

Menanggapi paparan Agus, Nowak mengatakan bahwa jalan pelarangan asbes adalah satu-satunya untuk keluar dari masalah ini. Dokter di Indonesia harus siap dalam menghadapi ledakan penyakit asbes karena Indonesia masih belum melarang asbes secara total.

“Melakukan diagnosis di kalangan dokter Jerman dan Eropa sangat sulit. Tapi sekarang kini ada Helsinki Criteria for Diagnosis and Attribution dan ini sudah banyak diakui negara-negara di dunia,” jelasnya.

Temuan hasil penelitian tim dokter RS Persahabatan menguatkan dugaan bahwa akan terjadi booming penyakit akibat asbestosis di Indonesia sebagai mana diungkapkan Indonesia Ban Asbestos (Ina-BAN). Dalam penjelasannya, Koordinator Ina-Ban, Mochammad Darisman mengatakan jika dihitung dari masa puncak penggunaan asbestos sekitar tahun 1985, Indonesia memang akan segera memasuki masa dimana laporan penderita penyakit akibat asbes akan membesar.

“Hingga tahun ini kita memang masih mengimpor asbes, namun grafik importasi asbes terlihat menurun jika dibandingkan tahun 1985. Di banyak negara yang sudah melarang asbes seperti Australia, Inggris termasuk Jerman, laporan penderita akibat asbestos mulai membesar setelah 25-30 tahun puncak penggunaannya,” jelasnya.
Darisman mengatakan Ina-Ban sampai saat ini mengadvokasi lebih dari 20 orang pekerja pabrik olahan asbestos yang didiagnosa mengidap asbestos related disease. Menurutnya pekerja kebanyakan tidak tahu dan sadar bahwa asbes berbahaya untuk diri mereka. Sehingga saat kondisi kesehatan mulai menurun baru pekerja mulai sadar dan memeriksa kondisinya.

“1 pekerja sudah diakui perusahaan dan negara dan sekarang sudah memperoleh kompensasi walaupun tidak layak. Tahun ini ada 12 pekerja yang kami sedang advokasi lebih jauh karena dari hasil pemeriksaan medis terbukti mengidap penyakit akibat asbestos” tegasnya.

Buruknya situasi kerja di pabrik-pabrik asbestos ditambah tidak adanya kesadaran perusahaan untuk melindungi tenaga kerjanya, membuat ancaman asbestos terhadap pekerja makin besar.

“Perusahaan bahkan menutup diri terhadap upaya kelompok tertentu seperti Ina-Ban untuk mensosialisasikan bahaya asbes dilingkungan kerja,” sesalnya.

Dennis Nowak melakukan kunjungan selama 7 hari dan berkeliling menemui dokter, korban, hingga sejumlah perusahaan di Indonesia yang masih mengolah asbestos. Dalam kunjungannya ke Indonesia kali ini dia juga membawa sejumlah hasil penelitian dan prakteknya dalam penanganan korban asbestos di Jerman. Jerman sekarang ini telah melarang total penggunaan asbestos, namun korban akibat asbestos masih belum semuanya terdata dan tertangani.
=====================

Spread the word. Share this post!

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *